Senin, 05 April 2010

BAROKAH DALAM TRADISI PESANTREN ( Upaya Menuai Sukses Di Kehidupan Esok ) Oleh: Ida Jamal

Dalam tradisi pesantren ,kita mengenal banyak tata laku maupun cara santri melakoni kehidupannya untuk mencapai hirarki tertentu dalam mencari ilmu. Ada tradisi cium tangan senior,kiai atau ibu nyai, bertawassul , bahkan tabarrukan lewat ajaran para masyayikh baik yang sudah wafat maupun yang masih sugeng (hidup).
Bagi sebagian santri masa kini –utamanya pesantren kombinasi (salaf-modern) macam Pondok TambakBeras - tradisi lama yang turun temurun estafet dari para guru dan kiai pendahulu masih benar-benar dianggap ‘keramat’ dan wajib dijalankan secara terus menerus. Namun tidak sedikit pula yang tidak lagi memahami dan peduli bahkan mungkin terputus mata rantainya dengan tradisi pendahulu tersebut karena memang menganggap hal itu bukanlah yang terpenting.
Padahal jika kita menengok sejarah berabad-abad lamanya, transformasi ilmu antara kiai-santri diyakini tidak hanya terjadi melalui interaksi langsung belajar mengajar, namun juga karena factor ‘tersirat’ yang tidak langsung maupun yang dhohir saja, seperti memperoleh barokah dari amaliyah-amaliyah tertentu. Walhasil, mendiskusikan hal ini, saat ini, tentu bukan jadul (usang) melainkan adalah keniscayaan dan akan kita awali dari memahami konsep barokah dari sumber-sumber Islam.

Konsepsi Islam tentang Barakah

Sumber referensi Islam yang utama adalah Al Quran, dimana Alloh menjelaskan dalam Surat Al Mulk ayat 1 bahwa Alloh lah sumber barokah itu sendiri;
قَدِيرٌ شَيْءٍ كُلِّ عَلَى وَهُوَ الْمُلْكُ بِيَدِهِ الَّذِي تَبَارَكَ
Maha Suci (Maha Barokah) Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Di samping Allah SWT merupakan sumber barokah, menurut firman-Nya dalam surat Al-An’ am ayat 155 menyatakan bahwa Al-Qur’an juga merupakan sumber Barokah;
تُرْحَمُونَ لَ فَاتَّبِعُوهُ مُبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ عَلَّكُمْ كِتَابٌ وَهَـذَا
Dan Al-Qur’an ini adalah kitab barokah (yang diberkati) yang Kami turunkan, maka ikutilah (ajaran)nya, dan bertaqwalah agar kamu disayangi (oleh Allah).
Allah s.w.t dan Al-Qur’an merupakan sumber barokah. Bila nilai-nilai Al-Qur’ an diamalkan dalam kehidupan, maka secara otomatis kehidupan di negeri, kota, desa, kelompok dan perorangan yang menerapkan nilai-nilai tersebut menjadi objek sasaran barokah. (Thanthowi Djauhari K.H, online on august 9.2009)
Jika diambil contoh dari apa yang terkandung dalam AlQuran tentang barokah pada manusia misalnya, akan kita dapati kenyataan keberkahan yang di bawa oleh para nabi pada umatnya lewat ajaran yang dibawanya maupun lewat amal perbuatannya yang senantiasa memberikan manfaat seluas-luasnya bagi ummat. Karena barokah adalah kebajikan yang melimpah sehingga apapun atau siapapun yang dilimpahi keberkahan, meskipun sedikit jumlahnya, namun akan sangat berlimpah kemanfaatannya, meluas ruang lingkupnya dan tidak dapat diukur secara materi bahkan oleh indra kita sendiri. Mufassir Indonesia terkemuka Quraisy Shihab dalam Tafsir Al Mishbah nya memberikan deskripsi penafsiran Surat Maryam ayat 31. Ayat ini bercerita tentang keberkahan yang di sandang oleh nabi Isa as antara lain, adalah aneka manfaat yang dapat diperoleh manusia dari kehadiran beliau, baik dengan penyembuhan-penyembuhan yang terjadi atas izin Alloh melalui beliau, maupun dengan ajaran-ajaran dan tuntunan-tuntunan yang beliau sampaikan. Keberkahan itu tidak terbatas pada tempat tertentu,misalnya hanya pada tempat-tempat peribadatan, tetapi dimanapun beliau berada sebagaimana dipahami dari pernyataan beliau aina ma kuntu/ di mana pun aku berada ( Vol 8,hal.180)
Dalam barokah waktu misalnya, beliau menafsirkan, bila ini terjadi maka akan banyak kebajikan yang dapat terlaksana pada waktu itu dan yang biasanya tidak dapat menampung sebanyak aktivitas baik itu. Berkah pada makanan juga, adalah cukupnya makanan yang sedikit untuk mengenyangkan orang banyak yang biasanya tidak cukup untuk orang sebanyak itu.
Demikian, Islam memandang barokah sebagai karunia dari Alloh pada seluruh makhluknya yang mampu memberikan manfaat seluas-luasnya dan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Tabarrukan (juga) Kunci Kesuksesan

Dalam hidup kita meyakini ada barokah dari Alloh yang dilimpahkan pada seluruh makhluqNya yang beriman dan bertakwa. Dari keimanan dan ketakwaan itu lah muncul anugerah Alloh yang luar biasa, tidak terbatas oleh kemampuan akal dan indra kita. Dan Alim Ulama’ sebagai penerus para Nabi adalah sekelompok orang yang kita percaya memiliki kedekatan spiritual melebihi umumnya manusia, yang karenanya, banyak juga orang ber ‘tabarruk’ pada mereka guna me’ngunduh’ barokah dari Alloh.
As Syaikh Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazzali Ath Thusi dalam Minhajul ‘Abidin menerangkan bahwa bagi seorang ’abid yang berhasil menaklukkan segala tantangan-tantangan (‘aqabaat) pendakiannya, Allah menjanjikan 40 macam karunia: 20 diberikan di akhirat, 20 lagi diberikan di dunia. Diantara dua puluh yang diberikan di dunia adalah: Allah menjadikan barokah dalam ucapan-ucapannya. Beruntunglah kita mewarisi dari para ’abidin ijazah-ijazah mustajabah berupa hizib-hizib, berbagai shighat shalawat, suwuk dan sebagainya, yang benar-benar kita buktikan manfaat dan barokahnya (bebarapa contoh ijazah suwuk dari Kyai Kholil Bisri, dari ayahnya, Kyai Bisri Mustofa, dari guru dan mertuanya, Kyai Kholil Harun, baca blog Yahya C. Staquf Agustus 9, 2009)
Adapun ukuran kesuksesan adalah pencapaian sesuatu hal pada tahap yang diinginkan yang umumnya adalah hirarki yang paling maksimal.. kebutuhan manusia untuk hidup bahagia materi dan immateri (dhohir-bathin) adalah keniscayaan dimana dalam kondisi bagaimanapun ia akan terus berupaya untuk memperoleh ketenangan dalam hidupnya baik ketenangan duniawi maupun ukhrowinya. Karena itu upaya mencapai barokah dalam seluruh sisi kehidupannya akan terus dilakukan, tidak terkecuali santri, dalam kehidupan mencari ilmunya.
Santri adalah para pencari dan pecinta ilmu di pesantren, tentu tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek saja (dalam hal ini belajar materi bahan ajar) yang diperoleh dari interaksi langsung di kelas misalnya, untuk mencapai keberhasilan yang didambakan, namun juga melakoni amaliyah-amaliyah maupun kalimah thoyyibah tertentu, sebagai aspek lain dari sebuah upaya. Ini tentu saja dapat dibenarkan dan dibuktikan keabsahannya selama apa yang dilakukan adalah atas dasar petunjuk ‘ alim Ulama yang memiliki kapasitas itu. Apalagi misalnya, ijazah yang dilakoni itu (wirid-wirid, sholat-sholat sunnah, tawassul dll) substansinya sama sekali tidak keluar dari ajaran Islam dan periwayatannya sampai hingga nabi besar Muhammad s.a.w.
Selain hal diatas, akhlaq yang karimah (mulia) dan amal baik juga merupakan sumber barokah karena Nabi mengajarkan dan mencontohkannya, sebagaimana HR, as-Suyuthi & Ibnu Hajar;. Rasulullah saw adalah orang yang banyak berdoa dan selalu merendahkan diri. Beliau selalu memohon kepada Allah swt supaya dihiasi dengan etika yang baik dan akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau selalu membaca : “ Ya Alloh Perindahlah rupa dan akhlakku”
Demikian halnya dengan menghormat dan beradab yang baik pada Ulama yang mewarisi ilmu-ilmu para nabi , adalah sepatutnya dilakukan oleh ‘tholibul ilmi’ sebagai salah satu sumber keberkahan dari ilmu Alloh" Barang siapa menyakiti waliku, maka Aku telah mengumandangkan perang kepadanya" (Hadist Riwayat Bukhari)
Imam Syafi'i dan Imam abu Hanifah menafsirkan yang dimaksud wali dalam hadist itu adalah para ulama. Sehingga penuntut ilmu harus menghindari akhlak yang buruk pada mereka, karena itu berarti menjadi penghalang bagi kebarokahan ilmu.
Akhirnya, bagi pencari ilmu-khususnya santri- semestinya mempercayai unsure barokah dalam aktivitas keilmuannya, dimana tradisi-tradisi di dalam pesantren yang teraktualisasi dalam ritual-ritual ibadah dan amalan-amalan tertentu yang mu’tabaroh adalah murni bermuara pada mencapai ridlo dan barokah Alloh,dan bila keduanya telah didapat itulah sesungguhnya makna kesusksesan. Barokallohu lana..

Referensi:
M.Quraisy Shihab, Tafsir Al Mishbah –Pesan Kesan dan Keserasian Al Quran-, Jakarta: Lentera Hati,2002
Thonthowi Djauhari K.H, Mereka bertanya tentang Barokah , http://www.nu.or.id, Published on August 9,2009
Soelaiman Fadeli& M. Subhan, Antologi NU –Sejarah, Istilah, Amaliyah, Uswah- Surabaya: Khalista, 2008
Yahya C.Staquf, Suwuk Barokah, Nahdiyyin blog Yahya C. Staquf Agustus 9, 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar